Pikiran Rakyat, 24 Desember 2008
Bagi umat Nasrani, Natal berarti merayakan kelahiran Yesus Kristus di bumi. Kelahiran-Nya menumbuhkan harapan untuk pemulihan hubungan umat manusia dengan Tuhan yang rusak akibat kejahatan dan dosa. Ajaran dan tindakan-Nya mereformasi pola pikir, nilai moral, tatanan sosial, dan pengalaman spiritual. Dengan demikian, hubungan umat manusia dengan Tuhan tidak lagi merupakan pengetahuan supernatural (transendental) dan ritual, tetapi sekaligus merupakan pengalaman unik bagi umat (imanen).
Dalam perspektif pragmatisme, makna dinyatakan dengan pemolaan atas interaksi sosial yang terjadi berulang kali sebagai produk dari sistem sosial secara keseluruhan (Aubrey Fisher, Perspectives on Human Communication; 1978). Perwujudan interaksi sosial ini muncul dalam pola perilaku yang merupakan cerminan perasaan emosi, kepribadian, dan sikap yang diinternalisasikan. Maka, makna Natal dinyatakan melalui perilaku-perilaku umat yang saling berinteraksi dalam tradisi Nasrani dan sistem sosial.
Perulangan interaksi sosial yang dinamis itu memunculkan stereotip mengenai keragaman makna. Saat ini, Natal hampir tak terpisahkan dengan sukacita perayaan di berbagai tempat, menghias pohon cemara, lilin, hadiah, nuansa liburan, sampai diskon produk barang dan jasa. Pemaknaan simbol dan ikon Natal ini mendistorsi makna asali Natal, tetapi sekaligus mengaktualkan makna Natal.
Rekonstruksi Makna
Pada hakikatnya, makna dalam komunikasi merupakan fenomena sosial. Makna selalu mencakup banyak aspek pemahaman (kerangka acuan, simbol, sifat sosial, dll) yang dimiliki oleh para komunikator. Di samping itu, pengertian makna bergantung pada perspektif yang digunakan untuk mengkaji proses komunikatif. Jawaban yang cukup memadai bagi satu perspektif belum tentu sesuai bagi perspektif lain. Dengan demikian jawaban "benar" atau "yang terbaik" menjadi tidak relevan asalkan pengkajian dilakukan secara konsisten dan bertanggung jawab.
Dalam hal ini, para pendeta, uskup, dan jajaran penatalayan gereja diberikan mandat penting sebagai pembentuk opini (opinion leader). Mereka memerlukan disiplin penafsiran yang baik atas teks kitab suci untuk mencerdaskan umat. Pencerahan ini seharusnya menolong umat untuk menemukan relevansi penafsiran teks kitab suci dengan kehidupan nyata umat.
Relevansi tersebut tercermin dalam interaksi sosial sehari-hari. Gereja perlu mendorong dan menolong umat untuk mengejawantahkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai kebaikan yang berakar akan menjadi bahasa bersama untuk membangun dan memperbaiki moralitas bangsa.
Harapan
Dalam kehidupan sosial, perjuangan gereja untuk menyuarakan perbaikan moral harus terus dikumandangkan. Perbaikan moral dilakukan dalam segala bidang, termasuk institusi gereja. Gereja seharusnya tidak mementingkan kepentingan pribadi, golongan, atau terlibat dalam politik praktis. Perebutan jabatan atau kekuasaan dalam gereja justru meresahkan masyarakat dan melemahkan kepercayaan umat.
Melalui kenyataan ini, umat perlu terlibat aktif dalam pembenahan gereja sebagai institusi. Pembenahan ini menumbuhkan harapan untuk mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang lebih baik. Tatanan masyarakat yang realistis. Tidak hanya berada pada alam konseptual dan naif.
Harapan ini perlu diperjuangkan dan diwujudkan secara bersama-sama dengan pemerintah, antarlembaga, lintas agama, dan masyarakat. Tantangan konflik horizontal karena SARA, iklim politik menjelang pemilu 2009, krisis ekonomi global yang memengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri, kemiskinan, hukum yang kehilangan keadilannya, bencana alam, dan rusaknya moralitas bangsa karena korupsi dan kebohongan menjadi agenda kusut yang harus dihadapi bersama. Namun, perjuangan dan harapan itu tidak akan sia-sia karena dibangun di atas semangat yang sama.
Sama halnya ketika umat Nasrani menantikan kelahiran Yesus Kristus untuk memulihkan hubungan umat dengan Tuhan, harapan untuk membenahi kondisi bangsa ini akan terus hidup. Semangat dan harapan Natal menjadi bahasa universal yang dapat dimaknai oleh siapa pun untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik. Selamat memaknai Natal!
Oleh Yulius Tandyanto (Penulis, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Associate Staf Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) cabang )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar